Summary : Axl mendengar istilah tren "Self Reward" dari penduduk setempat yang kebetulan lewat di saat sedang misi melawan Irregular. Setelah dapat jackpot bernama "liburan", mereka pun mencoba menikmati liburan tersebut. Apakah akan berjalan dengan lancar, atau.. berujung bencana?
Genre : Comedy, non-canon, slide of life, dan sedikit bumbu action.
Character : X, Zero, Axl, Signas, Alia, dan NPC pendukung.
Va-chaos
Mission one : Preparation
Mengandung cerita non-canon dan hanya fanfiksi belaka. Mohon untuk tidak dikaitkan dengan cerita aslinya.
!Disclaimer!
Nama NPC dan nama kota hanya karangan Author dan tidak berkaitan dengan nama-nama tempat di seri Rockman manapun.
Seri Rockman X punya Capcom. Fanfiknya punya saya.
Sekian. Enjoy!
"Apa Michi juga ikut?" Seorang anak kecil berumur 5 tahun itu menarik-narik celana perempuan dewasa di sampingnya. Menatapnya dengan penuh harapan.
"Tentu saja. Michi kan juga termasuk keluarga kita." Perempuan itu menjawab sambil mengelus kepala anak kecil itu, sambil memeluk mainan robot. Terlihat masih fungsional. "Yeeyy! Kita bisa main komedi putar sama Michi!" Mainan robot itu diangkat tinggi-tinggi. Tangan robot itu pun ikut mengangkat ke atas, lampu di mata robot itu ikut berkedip.
"Li-bu-ran! Li-bu-ran!"
"Makoto.. jangan lari!"
Jauh di atap gedung pencakar langit, seorang reploid berjabrik dengan core bulat di kepalanya, berdiri dengan kaki sebelahnya menginjak batasan atap gedung. Reploid itu memegang erat sesuatu yang melambai-lambai diterpa angin sore. Benda itu seperti..
Perempuan itu merogoh tasnya. Mendapati bahwa barang bawaannya menghilang dari tasnya. "Eh? Dimana brosurku? Tadi aku menaruhnya di sini.."
Suara lift naik dengan kecepatan tinggi. Terdapat dua hunter tengah mendiami lift tersebut. Sang hunter junior membuka suara, seperti biasa.
"Kalian pernah berlibur?"
"Berlibur?" Zero menatap Axl heran.
"Iya, berlibur! Setelah kita membasmi irregular selama ini, kenapa kita tidak mencoba berlibur sekali saja?" Ucap Axl dengan muka super ceria, memberitahukan hal yang baru ditemuinya baru-baru ini di lokasi pembasmian irregular bersama Zero.
"Kalau saja irregular mengenal kata libur, mungkin kita juga bisa melakukannya." Ketus Zero dengan sarkas, mengerti dengan maksud juniornya. Tapi, dengan meningkatnya jumlah kasus irregular di seluruh penjuru dunia, mereka tidak mungkin akan melakukan kegiatan penuh rileksasi seperti berlibur.
"Aww.. ayolah, masa kita tidak mendapat libur sehari?" Rengek Axl, cemberut dengan jawaban seniornya.
"Cobalah sampaikan usulmu ke Signas. Mungkin dia akan mempertimbangkannya untukmu." Ucap Zero asal, diiringi suara indikator lift bahwasanya mereka telah sampai ke lantai tujuan. Mereka berdua pun berjalan keluar dari lift.
Sepertinya itu ide yang bagus, tutur Axl dalam batin. Axl pun berlari meninggalkan Zero, menuju kepada seseorang yang baru saja diucapkan seniornya.
"Oi, Axl!" Zero menatap Axl buru-buru meninggalkan dirinya seorang. "Firasatku buruk.." Dan Zero pun memutuskan untuk menghiraukan firasat yang tidak mungkin benar. Kaki titaniumnya pun melangkah ke ruang komando dimana seharusnya Signas dan Alia berada. Berniat mau melaporkan hasil misi, namun di sana hanya ada Alia.
Zero pun menatap Alia. "Dimana Signas?"
"Oh? Kamu tidak tahu? Tadi Axl mengajak Signas berunding sesuatu."
Firasat Zero makin kuat. Sekarang disertai intuisinya, dilanjutkan dengan mengutuk ucapannya di lift.
Sinyal panggilan mengontak Alia melalui jaringan telekomunikasi. "Di sini Alia."
"Ya, Zero ada di sini."
"Baik." Alia pun menutup saluran. "Signas memanggilmu dan X ke ruang komando."
Di tengah ruangan terbuka, terdapat tiga irregular hunter berjajar rapi. Di sebelah kiri ada Zero, X di tengah, dan Axl di sisi kanan X. Bersikap hormat di depan reploid yang berdiri tegak berstatus Komandan Irregular Hunter HQ di hadapan mereka, Signas.
"Saya mengumpulkan kalian di sini, untuk melaporkan bahwa saya telah menyetujui pemberian cuti sebanyak 3 hari untuk Irregular Hunter Zero, Irregular Hunter X, dan Irregular Hunter Axl." Ucap Signas ke ketiga reploid di depannya. "Cuti kalian dimulai besok. Anggap saja ini adalah sebuah penghargaan karena kalian telah bekerja keras selama ini."
Kedua seniornya hanya terpelongo, syok dengan pemberitahuan yang baru saja mereka dengar. Axl membuat senyum lebar penuh kebanggaan. Baru saja X hendak membuka mulut, Signas langsung memotong.
"Sekian dari pemberitahuan kali ini. Kalian bisa bubar sekarang." Signas pun berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan mereka yang kebingungan.
Zero, yang teringat ucapannya waktu di lift, menoleh ke Axl. Masih dengan ekspresi syoknya. "Oi, Axl. Ini pasti perbuatanmu, kan?"
"Hehe~ Sudah pasti, kan?" Axl masih memasang tampang bangganya. "Kita seharusnya layak mendapat cuti ini kan? Perjuangan kita patut diapresiasi!"
"Itu sudah menjadi tugas kita untuk membasmi irregular! Bagaimana kita bisa bersantai di saat reploid tidak bersalah diserang irregular?!" X memencak ke Axl. Zero sigap mencegat sahabatnya, mengetahui jika perbuatannya itu tidak ada gunanya.
"Sudahlah, X. Kita sudah bekerja sampai sejauh ini dan terlalu fokus dengan pembasmian irregular. Sebaiknya kita memanfaatkan cuti ini untuk mempersiapkan diri kita lebih matang." Zero berusaha menjadi penengah diantara mereka berdua. "Aku juga tidak membenarkan negosiasi jatah cuti kita, Axl. Jangan terlalu gembira." Tutur Zero sambil melipat tangan.
X berusaha menenangkan diri. Axl hanya senyum lebar khasnya, garuk-garuk pipi dengan jari telunjuknya. Zero hanya bisa geleng-geleng kepala, pasrah dengan keadaan.
Lima belas menit berlalu, kini X menerima kenyataan mereka mendapat 3 hari cuti kerja.
Mereka mulai berunding kegiatan apa yang akan mereka lakukan selama cuti berlangsung.
"Aku memutuskan untuk latihan teknik pedangku selama cuti nanti." Zero berpendapat.
"Aku akan berpatroli dan memastikan semuanya aman." X mengepalkan tangannya ke atas.
"X, berpatroli juga termasuk bekerja.." Zero menatap X, sempat lupa betapa gila kerjanya X selama ini. "Bagaimana kalau kau menjadi teman latihanku?"
X menjeda sebelum menjawab. "Ide bagus. Aku juga perlu berlatih untuk meningkatkan kapasitas kekuatanku."
Axl yang mendengarkan mereka, merasa kecewa berat. Ini tidak seperti apa yang direncanakan di benak Axl. Baginya, berlibur itu terhindar dari mengangkat senjata untuk berperang, relaksasi tanpa bertemu dengan reploid sinting, dan penuh canda tawa.
"..axl.."
"Axl!"
"Huh?" Axl terbangun dari lamunannya.
"Hey, Axl? Kamu masih di sini?" X memandang Axl khawatir.
"Ha, ya, 'napa X?"
"Kita berdua merencanakan untuk latihan besok, mau barengan?"
"Mau- eh bentar, bentaaarr! Bukan liburan ini yang kumaksud!" Axl melambaikan kedua tangannya kasar. X dan Zero tampak kebingungan dan memandang satu sama lain.
"Masa kita menyibukkan diri dengan latihan selama cuti?! Tidak asyik! Itu sama saja dengan menghabiskan waktu luang selama tidak ada misi!" Axl kembali merengek di hadapan seniornya.
"..Jadi, kegiatan asyik apa yang kau maksud itu, Axl?" Tanya Zero jengkel.
"Tentu saja!" Axl menunjuk ke atas dengan penuh kegembiraan. "Kita berkunjung ke kota Vilemon! Di sana ada banyak wisata yang menarik!"
"Kota Vilemon? Kudengar, kota itu baru selesai direnovasi. Apa bagian yang direnovasi akibat serangan irregular itu, termasuk wisata turis?" X menopang dagu, berusaha mengingat kembali kejadian waktu ketika dia dan Zero pergi ke sana saat penyerangan berlangsung.
"Menurut buku turis ini.." Axl segera mengeluarkan majalah berwarna, bertuliskan berbagai tempat yang dapat dikunjungi turis. "Ada banyak yang bisa kita kunjungi!" Tatapan penuh keceriaan dan harapan Axl membanjiri muka X dan Zero. Mereka berdua sampai berkeringat dingin dengan tingkah junior satu ini. "Kita pergi bersama ya? Ya~? Pleaseee~~?"
Para senior hanya punya satu pilihan, menuruti keinginan Axl. Jika tidak, mungkin mereka akan melihat Axl merajuk seharian di pojokan. Zero bisa saja menolak, tapi X memberikan isyarat untuk membiarkan Axl kali ini. Keduanya mengangguk setuju, dan Axl pun melompat-lompat kegirangan. Karena dipikir-pikir, berkat siapa mereka bisa dapat cuti sampai 3 hari? Sungguh tak masuk di akal, tapi sudah terjadi.
"Jadi, kita akan pergi berapa hari?" Zero menoleh ke Axl.
"Tentu saja, 3 hari penuh!" Ucap juniornya dengan semangat.
Mendengar hal itu, mereka kembali tak habis pikir. Wisata apa saja yang akan dikunjungi Axl sampai 3 hari penuh? Tentu saja jawaban itu ada pada lipatan brosur yang menjulur panjang hampir menyentuh lantai setelah Axl membuka lembaran berikutnya.
Zero pun mendekati X dan berbisik padanya, "Kau yakin akan membiarkan bocah itu begitu saja? Kau tidak keberatan?" Mengabaikan Axl yang tengah kegirangan sambil menatap list wisata turis yang mereka kunjungi besok.
X pun hanya mengangguk pelan dan membalas sahabatnya dengan bisikan, "Kali ini saja. Sepertinya dia sangat ingin mengunjungi wisata itu."
Zero pun pasrah untuk kedua kalinya. X pun hanya tersenyum, lalu menepuk pelan armor bahu Zero.
Tidak disangka, buka mata sudah berganti hari. X bangun dari kapsul reparasinya, dan mendapati Zero sudah tidak ada di sana. X sempat berpikir, apa dia bangun kesiangan? X mendengar keributan samar di luar ruangan. Tanpa basa basi dan penasaran, X melangkahkan kaki titaniumnya ke arah sumber keributan, dan mendapati Zero dan Axl sudah beradu mulut. Tidak jauh dari kedua irregular hunter itu, ada Alia memandangi mereka, sambil menahan tawa.
"Zero, Axl! Ada apa ini?! Kenapa kalian bertengkar?!" X segera memisahkan mereka berdua, sebelum kericuhan semakin parah.
"Kau lihat ini, X?!" Zero memperlihatkan rambut pirangnya dikepang dengan rapi. "Beraninya dia mengepang rambutku saat aku tidur?! Bocah kurang ajar!" Tangannya sudah dikepal kuat, siap meninju Axl terbang ke langit ketujuh.
"Ini persiapan liburan! Setidaknya aku tidak memotong rambutmu sampai perbatasan armor badan!" Axl melawan, sebagai alasan untuk 'ganti suasana' pasca liburan. "Dan lagi.. Alia setuju kok, rambutmu dikepang begitu.." Axl menyatukan kedua telunjuknya dan melirik ke arah Alia, tidak mau disalahkan sendirian.
Zero pun berpindah tatapan kesalnya ke Alia. "Kau juga?!"
Alia akhirnya melepas tawa. Tidak tahan melihat tingkah mereka. "Aku yang mengusulkan untuk mengepang rambutmu. Tapi, aku tidak menyangka dia serius mau melakukannya.." Alia kembali menahan tawa, agar tidak menimbulkan masalah lebih serius.
Zero pun geram, tangannya sudah mencengkram erat gagang Z-saber, tanpa ragu menebas Axl. "Kemari kau! Dasar bocah keparat!"
"AAAAAAAHH! X, TOLONG AKUUUU!" Axl pun melesat menjauhi Zero sebelum dia dilibas habis olehnya.
X hanya berharap liburan mereka berjalan lancar, namun sekilas dia melihat rambut kepang Zero yang melambai-lambai saat mengejar Axl.
"Pff—"
"X!"
"Maaf!"
—Setengah jam kemudian
"Jadi, Axl. Kalian mau berwisata ke kota Vilemon selama 3 hari?" Alia membuka pembicaraan setelah melihat Axl sudah merenggut babak belur selama lima belas menit full. Sepertinya Zero menyematkan dendam pribadinya di sana. Kalau saja X tidak melangkah maju menghentikan Zero, mungkin Axl sudah tidak dapat ditolong lagi. Kemungkinan Axl memaksa dirinya ikut dengan kondisi babak belur, dipaksa X dan Alia masuk ke ruang reparasi, atau mungkin saja liburannya ditunda sampai Axl selesai direparasi.
"Iya. Kudengar di situ wisatanya menyenangkan.." Tatapan Axl berubah sayu. Alia sedikit bersimpati dengan Axl.
"Ada yang berkenang di sana ya?" Alia menebak tepat sasaran. Axl tertohok.
"Iya." Axl menjeda. "Red pernah mengajakku melihat-lihat ke sana."
Alia mengangguk. "Hoo~ jadi, kamu ingin ke sana?"
Axl hanya mengangguk.
"Pengen pake banget?" Alia mulai senyum.
Axl mengangguk lebih kencang.
"Sampe minta jatah cuti 3 hari sama Signas?" Senyum Alia mulai sinis.
Axl mengangguk tapi terdiam setelah tersadar dengan omongan Alia. "Ehm, aku bisa jelaskan.."
"Trus kalian libur ga ngajak aku?!" Alia makin tersenyum sinis.
"Eeehh.." Axl mulai berkeringat dingin. "Maaf! Aku mengira Alia bakal sibuk!" Axl menyatukan kedua tangannya sambil menunduk depan Alia. Memohon ampun sebelum dijeritin delapan oktaf dari mic navigatornya.
"Dimaafkan, kalau kamu belikan aku mochi daifuku satu lusin!"
"EEEEHHH?!"
"Ahahahahaha, aku hanya bercanda~" Alia melambaikan tangannya santai. Axl tidak sepenuhnya percaya.
"Kamu ingin kesana karena rindu dengan Red, kan?" Lagi-lagi ucapan Alia membuat Axl tertohok. Dia hanya bisa mengangguk lesu. Melihat expresinya saja membuat Alia menahan tawa.
"Alia curang! Aku dipermainkan terus!" Axl kembali merengek. Alia hanya bisa tertawa.
"Ahahahaha! Kamu terlalu mudah diperdaya, Axl." Alia mengangguk sambil tertawa.
"Oi, kapalnya udah mau berangkat. Ayo, cepat." Zero tiba-tiba menyerobot percakapan mereka berdua. X sudah berjalan di samping Zero, ikut menatap Axl.
"Ayo, Axl!" X berseru. Axl tersenyum, kemudian berlari menyusul mereka berdua. Alia hanya memperhatikan dari jauh.
Mereka bertiga memasuki lift. Sebelum pintu lift ditutup, X menyahut Alia dari jauh. "Alia, hubungi kami kalau ada sesuatu!"
Alia pun tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Tenang saja, serahkan padaku!" Jawabnya dengan penuh percaya diri sambil mengacungkan ibu jari ke mereka bertiga. Zero hanya tersenyum tipis, dan Axl melambaikan tangannya sambil berseru ke Alia.
"Mochi daifukunya menyusul ya~!"
"Oi, Axl—!" Alia langsung beranjak berdiri. Berniat bercanda malah dibawa serius.
Ketiga sosok hunter itu pun sirna ditutup tebalnya pintu lift.
Suara lift turun dengan kecepatan tinggi. Mereka bertiga mulai berbincang apa saja yang perlu mereka persiapkan. Kedua pandangan seniornya menuju ke Axl. Hunter dimaksud malah menatap mereka dengan watados. Zero hanya geleng-geleng, dan X pun menepuk helmnya.
[Insert : X's POV]
Axl membentangkan peta hasil gambarannya sendiri. Sama persis seperti gambaran anak-anak menggambar peta harta karun. Aku dan Zero melihat dengan seksama. Jari Axl menunjuk gambar gedung yang ditandai dengan krayon abu.
"Kita akan mengendarai Ride Chaser dengan jalur ini, melewati selat dengan kapal, lalu lewat jalur itu.. lurus selama 300 km, sampai deh!" Tangannya menunjuk ke gambar tenda karnaval merah putih yang juga digambar dengan krayon. Rasa penasaranku sempat tertuju ke arah lain, tetapi Zero sudah menanyakannya duluan.
"Belajar gambar darimana?"
"Ehm, Gangarun?" Axl menatap Zero heran.
"Alat gambarnya beli dari mana?"
Axl terlihat menjeda. "Gangarun memberikannya padaku?" Axl semakin menatap bingung.
Zero semakin bertanya keluar dari topik. "Bisa gambar apa saja?"
"Aku bisa gambar stickman, bunga, buku, gedung—" Sudah waktunya aku bersuara sebelum mereka berdua semakin keluar dari topik.
"Zero."
Zero berdehem. "Apa saja yang telah kau persiapkan semalaman?" Pertanyaan itu mewakili kami berdua. Semejak kita berdua terus mendengar suara grasak-grusuk dari kamarnya, semalaman. Iya, 12 jam sebelum matahari terbit.
"Banyak, donk!" Dengan semangat dia menggapai tas selempangnya. Mengeluarkan berbagai referensi majalah dan gulungan kertas hasil gambaran dan tulisannya.
"Aku mencari banyak hal soal taman hiburan!" Dan Axl semakin berbicara panjang lebar. Dari wahana, wisata, taman hiburan, bahkan kebiasaan dan makanan yang tersedia di sana dia deskripsikan dengan rinci. Aku bisa melihat dengan jelas walau sekilas, ekspresi Zero yang agak.. terkejut. Entah kenapa aku juga sedikit terkejut. Kami tahu Axl akan SELALU mengungkapkan semua yang ada di benaknya, dari yang penting sampai yang tidak layak untuk digubris. Tapi, kali ini sedikit berbeda.
Dia mengungkapkan semua hasil risetnya selama sepuluh jam penuh. Seperti anak kecil penasaran saat menemukan hal baru.
Kami berdua mendengarkan dengan seksama. Axl sangat bersemangat menjelaskannya kepada kita. Zero dan aku saling bertatapan, saling melempar tatapan bingung apa harus dihentikan atau tidak. Zero menutup matanya dan mengalihkan pandangan, seperti menjawab 'jangan tanya aku'.
Axl menutup penjelasannya dengan tertawa gembira, "Hehehehe~ Aku tidak sabar!" Tangannya memeluk erat gulungan peta buatan tangannya.
Zero melipat kedua tangannya, tersenyum mengejek, "Axl, kau selalu banyak bicara."
Axl tampak membalas sambil menggerutu, "Hey! Ini demi liburan perdana kita!"
Semejak aku—kita, menerima Axl sebagai Hunter resmi, dia bagaikan anomali. Selalu memberikan berbagai elemen kejutan di setiap perilakunya. Bukan aku saja yang berkonklusi, bahkan Zero, Alia, maupun Signas juga memberikan konklusi yang mirip. Dia selalu bertindak di luar prediksi demi mendapat apresiasi olehku dan Zero.
Tingkahnya yang terlihat sembrono dan ceroboh dalam melaksanakan misi perburuan Irregular, membuatku sulit untuk mengakui Axl sebagai Hunter. Alia dan Signas sudah memberikan evaluasi kinerjanya padaku selama 6 bulan terakhir, dan hasilnya cukup memuaskan. Mereka mencoba membujukku secara halus, tapi pikiranku terus terpaku pada perbuatanku masa lampau—sama seperti Axl.
Melihatnya mengambil keputusan untuk memburu Irregular tanpa pandang bulu, menganggap reploid yang menggila dicap sebagai Irregular. Mengakibatkan pertarungan tidak penting berujung perang. Seperti mencerminkan diriku di masa lampau.
Aku tidak mau Axl juga terjerumus dalam pola pikir seperti ini.
"Kalau begitu, tuntunlah Axl. Dia ada potensi untuk menjadi Hunter, seperti kita. Terima saja, X. Aku tahu banyak keraguan di dalam pikiranmu. Tidak ada salahnya kita merekrutnya sebagai Hunter. Dia membuktikan dirinya mati-matian demi diterima olehmu, X. Keterampilannya juga bisa menjadi manfaat untuk misi kita ke depannya."
Zero pun berhasil menyakinkanku untuk merekrut Axl secara resmi sebagai Irregular Hunter. Keesokan harinya, Signas mengumumkan Axl sebagai Irregular Hunter resmi, ditambah dia langsung mendapat peringkat S atas semua pencapaiannya setengah tahun terakhir. Aku masih ingat betapa senangnya Axl sampai melompat ke arahku. Seru girangnya sampai bergema di ruang komando. Dia terus melontarkan pujian (lebih terdengar seperti keluhan) serta memelukku dengan erat.
TING! Indikator berat lift menyala. Pintu tebal lift perlahan terbuka lebar. Axl mendahului kita keluar lift. Kami mengikutinya dari belakang. Langkah berat kami memenuhi sepanjang lorong basement.
"Eh, eh, Zero!" Axl kini membalikkan badannya sambil berjalan mundur. "Enak ga, naik kapal pesiar?"
"Pertanyaan itu tidak cocok ditanyakan ke hunter." Ketus Zero. Aku setuju dengan Zero. Kita ini Hunter, dan pekerjaan kita menuntut untuk selalu bersiaga di base apabila ada Irregular menyerang. Walaupun ada Irregular yang menyerang di dalam kapal pesiar pun, kita tetap harus berjaga di kapal sampai dinyatakan aman dari Irregular.
Wajahnya merengut, kemudian berbalik kembali ke depan. "Dih, party pooper.." Bisikan Axl masih terdengar sampai di telinga kita.
"Terserah.." Zero tampak memutar matanya jengkel.
Kami tidak banyak mengobrol di saat kita hendak ke bagasi, dimana Ride Chaser kita diparkir. Tapi, ada satu pertanyaan terus mengganggu pikiranku.
Seorang Axl, pemburu Irregular maniak, tetiba meminta cuti? Apakah ada yang salah dengan processor di kepalanya? Dugaanku mengatakan bahwa Axl ada maksud lain dalam skema liburan ini. Signas juga memperingatkanku untuk mengawasi Axl. Dia itu SELALU di luar dugaan. Haish, bisakah sehari saja kau serius sedikit? Sedikit saja? Tanpa harus menyeret kami dalam skema yang sudah kau rancang di processormu? Aku lelah terus membersihkan apa yang kau perbuat.
"Kalau ada yang mengganggu di pikiranmu, katakan saja, X."
Aku sedikit tertegun saat Zero membuka suara. Pandangan mereka berdua tertuju padaku.
Axl kembali membalikkan badannya, "Napa, X? Ada yang ketinggalan?"
Aku menggeleng kepalaku, "Tidak ada." Belum saatnya aku bertanya padanya. Aku juga tidak mau merusak suasana dengan melempar pertanyaan tidak penting.
Axl manyun, meletakkan kedua tangannya ke belakang kepalanya disaat memutar badannya ke depan. Zero melirikku tidak yakin. Sebegitu jelaskah ekspresiku? Atau Zero saja yang cukup peka?
"Jam berapa sekarang?" Aku memandangi Axl.
"Jam dua siang." Zero bantu menjawab.
"Kapalnya berangkat jam berapa?" Aku bertanya lagi.
"Jam setengah tiga." Kini Axl yang menjawab.
"Butuh berapa lama untuk sampai ke dek kapal?"
"Rute biasa membutuhkan waktu setengah jam—" Axl jeda sesaat, Zero tertegun, dan aku mulai terjaga.
"Aaahh! Kita harus cepat sebelum gerbang dek kapalnya tutup!" Axl berlari mendahului seniornya, Zero dan aku mengikuti kecepatan laju Axl.
Aku mengaktifkan telekom, "Alia, berikan rute terdekat ke pelabuhan!"
"HAA?! Astaga, kalian..!" Maafkan aku, Alia. Aku merasakan rasa jengkel hanya dari nada suaramu.
Terdengar Alia mendengus capek. "Aku sudah mengamankan rute terdekat ke pelabuhan. Tapi rutenya—"
"Tidak masalah! Kita bisa melewatinya!" Zero menambahkan.
"Yang penting kita tidak ketinggalan kapal!" Axl ikutan.
Alia menghela nafas, "Baiklah.. Jangan mengeluh saat aku pandu rutenya, ya!"
"Baik!" Kita berseru, gerbang bagasi terbuka perlahan saat kita menaiki Ride Chaser masing-masing. Gerbang bagasi terbuka lebar, kami pun segera memutar selongsong gas. Ride Chaser kami pun dipacu dengan kecepatan tinggi.
To be continued.
Makasih sudah mau baca sampai akhir! Semoga kalian terhibur dengan asupan kebegoan trio hunter ini. Harap bersabar untuk chapter berikutnya!
RnR pls, tengkyu!
