Shinobi Online 2: The End of The World
Naruto © Masashi Kishimoto
Chapter 1
"Prolog"
Wednesday, March 4, 2009, 06:00 PM
Uzumaki Resident – Konoha
Kamar Naruto cukup luas untuk ukuran kamar anak remaja SMA laki-laki—sedikit berantakan, penuh identitas, tapi tetap terasa hidup. Di salah satu dindingnya tergantung poster atlet MMA wanita dan karakter game favorit, di sisi lain terdapat rak penuh buku pelajaran bercampur dengan komik dan novel aksi. Di atas meja, ada laptop dengan stiker-stiker nyeleneh dan headphone besar yang dibiarkan menggantung. Sepasang dumbbell kecil tergeletak di sudut ruangan, sementara bantal di kasur menunjukkan bekas tidur malas pagi tadi. Tempat itu mencerminkan jiwa muda yang enerjik—maskulin, penuh semangat, dan sedikit ceroboh.
Lalu, suasana tiba-tiba membeku. Udara terasa tegang, seperti sedang menahan napas bersama seluruh ruangan.
Seorang pria berambut pirang berdiri di hadapan Naruto, Karin, dan Kushina—posturnya tinggi, wajahnya dewasa tapi menyimpan kemiripan kuat dengan Naruto sendiri. Kulitnya penuh bekas luka pertempuran, lengan kirinya dibalut perban, begitu juga dengan mata kirinya. Ia mengenakan pelindung dada abu-abu ANBU, syal biru tua melingkar di lehernya, dan sarung senjata menggantung di pinggang.
"Halo Naruto," ujar sosok pria pirang tersebut ramah, sambil menatap Naruto pemilik kamar tempat mereka kini berada. "Ah, aneh sekali serasa memanggil diriku sendiri."
Naruto mengerutkan alis, lalu berdiri perlahan dari posisi duduknya. "Maksudmu?"
"Nama kita sama. Namaku juga Naruto Uzumaki. Versi dirimu dari dunia lain, tepatnya dimensi ke-1. Dunia ninja."
Naruto terdiam. Kata-kata itu membingungkannya. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena percaya, melainkan karena nalurinya menyuruh untuk bersiaga. Dia bukan orang yang mudah tertipu hanya dengan kata-kata aneh. Tubuhnya segera memasang kuda-kuda defensif, sedikit merendah dengan tangan kanan bergeser ke samping, siap bergerak kapan saja. Matanya menatap si pirang dengan tajam, lalu melirik cepat ke belakang pria itu—ke arah tiga sosok lain yang berdiri.
Pertama adalah Karin dimensi ke-1, tampak lebih dewasa dari kakaknya Karin di dunia ini. Ia berambut merah panjang dan kacamata bulat khasnya. Ia mengenakan jaket pink dengan belahan tengah dan celana pendek hitam—auranya lebih tajam, lebih siaga. Sosok itu berdiri dengan tenang, tapi matanya terus mengamati sekeliling seolah setiap sudut ruangan bisa menyembunyikan ancaman.
Di sampingnya ada Naruko—atau Naru—versi perempuan Naruto berusia 17 tahun, mengenakan kaus oranye crop-top dengan bahu terbuka, celana pendek jeans, dan perban di kedua lengan. Otot perutnya terlihat jelas, dan meski tubuhnya kecil, ia memancarkan kekuatan fisik dan percaya diri yang mencolok. Mata safirnya menyala dengan semangat dan kewaspadaan.
Dan terakhir, berdiri tenang namun mengintimidasi: Orochimaru dimensi ke-1, mengenakan pakaian ninja klasik dengan jubah hijau zaitun, sabuk ungu besar di pinggang, dan tatapan tajam penuh rahasia. "Pak Guru Biologi...? Tidak mungkin," pikir Naruto. Wajahnya... terlalu mirip dengan guru biologi di sekolahnya dulu. Tapi bukan karena ia menyenangkan. Tidak. Pak Orochimaru selalu punya aura menyeramkan, tapi sosok yang berada di hadapannya ini... ini lebih dari itu. Orochimaru versi ini bukan guru. Mata ular itu… Dia mirip predator.
Kini ada tujuh orang di kamar itu: Naruto, Karin, dan Kushina dari dunia modern, berhadapan dengan Naruto dewasa, Karin dewasa, Naruko, dan Orochimaru dari dunia ninja. Dua dunia bertabrakan dalam diam yang memekakkan telinga—sebuah awal dari kebenaran yang lebih besar. Kamar Naruto yang luas kini terasa sesak oleh aura mereka.
Setelah memperhatikan dengan lebih seksama, Naruto hanya bisa menatap dengan campuran bingung dan kagum. Di pintu ruangan, Kushina dan Karin berdiri dengan tubuh sedikit menegang. Raut wajah mereka menunjukkan keterkejutan yang sama dengan Naruto.
"Itu... versi lain diriku?" Karin bertanya dalam hati. Tubuh Karin mungkin diam, tapi pikirannya bergemuruh, matanya menyipit melihat sosok lain yang sangat mirip dengannya.
Sosok perempuan berambut merah di sana. Wajahnya... nyaris sama dengannya. Tapi caranya berdiri, dingin dan penuh keyakinan. Cara dia memandangi ruangan, memetakan setiap celah seolah siap bertarung kapan saja. Apa itu... versi dari dirinya di dunia ninja yang lebih kuat dari dirinya? Jaket pink itu bukan sekadar gaya. Dia tampak seperti... ninja sejati. Karin bahkan gemetar hanya berdiri di sini.
Sementara pikiran Naruto dan Karin terus bergolak mencoba memahami situasi yang tak masuk akal ini, suara Naruto dewasa kembali terdengar—tegas tapi tak mengintimidasi, seperti seorang kakak yang berusaha mengajak adiknya berbicara dari hati ke hati.
"Ini akan jadi cerita panjang, jadi lebih baik kau diam dan dengarkan baik-baik. Ada tujuh dimensi utama yang dikenal sebagai The Existence. Di setiap dimensi, ada versi diriku—dengan hidup yang berbeda, takdir yang berbeda. Kalian tinggal di Dimensi ke-6, dunia modern. Tapi aku berasal dari Dimensi ke-1, dunia ninja asli, tempat chakra, teknik ninjutsu, dan pertempuran antar desa dan negara menjadi hal biasa."
Naruto mengernyit. "Oke, tunggu dulu... chakra? Dimensi? Ninja?" Ia mendengus pendek, memperkuat kuda-kudanya sambil mengangkat tangan. "Maaf, tapi aku tidak percaya dongeng."
Baru saja ia hendak melangkah pergi, sebuah tangan ramping namun kokoh mencengkeram pundaknya dari belakang. Naru—gadis pirang dengan kaus oranye crop-top—menatapnya dengan mata tajam dan santai, ekspresi wajahnya jauh dari marah, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri.
"Duduk. Dengarkan dulu," ucap Naru singkat.
Naruto berusaha menarik diri, mencoba melepas cengkeraman itu, tapi tak berhasil. Tangannya memukul ringan pergelangan Naru, lalu mencoba meronta, namun sia-sia—tangan gadis itu kecil, tapi cengkeramannya kokoh bak penjepit baja. Ia berdiri tenang seperti tak sedang menahan apa pun.
"Gila... sekuat apa gadis ini?" pikir Naruto, mulai panik. Belum cukup sampai di situ, seekor ular kecil tiba-tiba muncul entah dari mana dan melilit pelan lehernya—dingin, lembab, dan nyata. Nalurinya langsung menjerit. Ini bukan tipuan sulap, bukan pula efek CGI. Tubuhnya membeku.
Akhirnya, Naruto terduduk kembali di kursi. Nafasnya sedikit memburu, matanya masih menatap tajam, tapi kini ada kebingungan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Maafkan Naru. Adikku ini memang... sedikit terlalu bersemangat," ujar Naruto dewasa, sambil menatap Naru dengan senyum geli. Lalu pandangannya kembali ke Naruto muda, kali ini lebih serius. "Tapi percayalah, aku pun akan berpikir dua kali untuk melawannya."
Naruto dewasa lalu berjalan pelan ke jendela, menatap malam Konoha 6 yang damai.
"Baiklah, akan kulanjutkan." Naruto dewasa menarik napas dalam, nada suaranya mulai lebih serius. "Dunia ninja tempatku berasal, awalnya berjalan baik-baik saja. Bahkan aku sempat berkunjung ke beberapa dimensi lain—termasuk tempat tinggal Naru, dan versi Naruto lainnya. Tapi kedamaian itu mulai runtuh. Ada satu sosok gelap… versi paling berbahaya dari kita semua."
Ia menatap langsung ke arah Naruto remaja. "Namanya Dark Naruto. Atau… Yami."
Naruto muda memicingkan mata. "Yami?"
"Dia adalah bayangan gelap dari diri kita. Lahir dari kebencian, dari rasa sakit yang tak pernah sembuh. Ia membenci semua versi dirinya sendiri—membenci kita. Dan dia sedang memburu kita satu per satu, melintasi dimensi demi dimensi."
Naruto remaja menahan napas saat mendengarnya.
"Dia sudah membunuh dua versi Naruto. Tanpa ampun. Dan dia tidak akan berhenti sampai semuanya musnah."
Kening Naruto mengernyit, ekspresi sok percaya dirinya sedikit retak. "Jadi… kau bilang… aku akan dibunuh?"
Naruto dewasa menatap tajam, seperti melihat pantulan masa kecilnya yang tak tahu bahaya dunia. "Ya. Kalau kau tetap di sini, cepat atau lambat dia akan datang untukmu. Yami tidak peduli siapa kau—ninja atau bukan. Ia hanya ingin menyerap kekuatan dari setiap versi dirinya, untuk menjadi yang paling kuat. Saat tujuh energi Naruto dari tujuh dimensi berhasil dikumpulkan, maka ia akan punya kekuatan yang tak bisa dikalahkan oleh siapapun. Ia akan jadi orang terkuat di dunia ini, bahkan di tujuh dimensi sekalipun."
Naruto remaja tertunduk sejenak, lalu bergumam dengan getir, "Kupikir masalah di dunia ini sudah cukup gila. Tiap negara berlomba membuat senjata, robot, pesawat tanpa awak, bahkan nuklir. Aku tidak menyangka ada masalah yang lebih besar… yang bahkan bukan berasal dari dunia ini."
"Ya." Naruto dewasa mengangguk pelan. "Alam semesta ini jauh lebih luas dari yang kau tahu, Naruto. Dan ancaman ini tak bisa kau hadapi sendirian."
Ia memberi isyarat pada Naru, lalu menatap kembali versi remajanya. "Sekarang, kami akan ajukan pertanyaan penting. Kau mau ikut dengan kami secara sukarela... atau kami harus memaksamu?"
Naruto remaja berdiri dari kursi dengan gusar. "Kau pikir itu pilihan? Kedua-duanya sama saja!"
"Karena kau memang tak punya pilihan." Suara Naru datar. Lengan kirinya bergerak, dan dari balik kulitnya, seekor ular muncul perlahan, menjalar turun seperti air hidup. Ular itu melingkar di udara, siap menerkam.
Namun sebelum situasi memanas, suara tegas memotong udara.
"Berhenti!" Kushina berdiri, matanya membara. "Aku tak akan biarkan kalian membawa Naruto begitu saja!"
Karin mengangguk, berdiri di sisi Kushina. "Kalian mungkin kuat… tapi kalian tetap orang asing. Dan kalian sedang mengancam keluarga kami!"
Naruto dewasa mengangkat tangan, mencoba menenangkan situasi. "Kalian salah paham. Aku tidak ingin menculiknya. Aku justru datang untuk melindunginya. Yami… dia bukan musuh biasa. Kalian lihat luka di wajahku? Di lengan kiriku?" Ia memperlihatkan bekas luka yang dalam. "Itu perbuatannya. Kalau Naruto tetap di sini, dia dan kalian semua dalam bahaya."
Kushina menatap luka itu dalam diam. Ada keraguan di wajahnya, tapi saat ia menatap lekat mata safir yang identik dengan anaknya, naluri keibuannya memastikan tidak ada kebohongan dalam tatapan Naruto dewasa. Ia memandang Naruto muda, lalu kembali ke Naruto dewasa.
Akhirnya, ia menghela napas panjang.
"Beri aku waktu sehari. Kalian boleh tinggal di sini sementara." Suaranya pelan namun tegas. "Tapi jika aku merasa kalian berbahaya, aku tak peduli siapa kalian—aku akan melindungi Naruto dengan cara apapun."
Naruto dewasa mengangguk pelan, menerima keputusan itu. Kushina berbalik, masih tampak terguncang, dan melangkah keluar kamar.
"Aku akan menenangkan ibu." Naruto muda akhirnya bicara lirih, lalu menyusul ibunya tanpa berkata apa-apa lagi.
Keheningan kembali menyelimuti kamar yang kini penuh ketegangan, seolah ruangan itu menyimpan nafas untuk babak selanjutnya.
"Kalian laki-laki bisa tidur di kamar ini, sedangkan yang perempuan… bisa tidur di kamarku," ujar Karin muda, mencoba mencairkan keheningan yang menegangkan sejak percakapan sebelumnya. Suaranya terdengar canggung, tapi jelas—sebuah usaha tulus untuk menjaga kenyamanan bersama.
Naru dan Karin dewasa mengangguk pelan, lalu mengikuti Karin muda melangkah ke kamar di seberang. Mereka melewati lorong kecil, menyusuri rumah yang mulai tenang dalam gelapnya malam.
Begitu pintu kamar terbuka, aroma lembut lavender dan wangi lotion menyambut mereka. Kamar itu mencerminkan kepribadian Karin sebagai mahasiswi—rapi, fungsional, tapi tetap feminin. Di sudut ruangan berdiri meja belajar yang penuh catatan tempel, tumpukan buku kuliah, dan sebuah mug bertuliskan "Genetics is Sexy". Tempat tidurnya berlapis sprei bergaris pastel, dengan boneka rubah kecil duduk manis di atas bantal. Dindingnya dihiasi potret masa kecil dan beberapa kutipan motivasi dalam bingkai kayu sederhana.
Namun yang paling mencuri perhatian Naru adalah dua foto di atas rak: dua buah potret akrab, memperlihatkan Karin muda tersenyum lebar bersama dua remaja yang juga ia kenali, satu foto bersama Naruto, satu lagi bersama Naruko dari dimensi ini.
Tatapan Naru terpaku. Ia telah mengamati sepanjang hari, mendengarkan pembicaraan, interaksi, dan mengenali pola hubungan di antara mereka. Tapi sepanjang waktu itu… tidak sekali pun nama "Naruko" atau "Naru" disebut. Ada sesuatu yang tak bisa ia abaikan. Sesuatu yang janggal. Rasa penasarannya sudah meluap melewati batas. Dengan ragu namun mantap, ia menunjuk kedua foto itu dan bertanya pada Karin muda.
"Aku sudah bertanya-tanya sejak pertama kali melihatmu… Tapi sekarang aku ingin tahu langsung." Mata safirnya menatap dalam, penuh rasa penasaran yang tertahan. "Kenapa Naruko di dimensi ini tidak tinggal bersama kalian?"
Karin muda menatap foto itu lama. Wajahnya perlahan berubah—dari bingung menjadi terkejut, lalu meredup menjadi sedih. Ada sesuatu yang berat di balik matanya, sesuatu yang jarang ia ceritakan, bahkan kepada orang-orang terdekatnya. Ia mengangkat kepala, menatap lebih dekat wajah Naru. Garis wajah itu memang sangat mirip dengan Naruko—adik yang hanya ia lihat lewat foto dan panggilan video beberapa kali. Tapi ada yang berbeda…
Tubuh gadis di hadapannya bukan milik seorang siswi SMA. Otot-otot lengannya memang ramping, tapi terlatih—tangan yang pernah memukul dan dipukul, bukan sekadar menulis catatan sekolah. Cara Naru berdiri, bahkan diam, membawa aura waspada. Seperti petarung jalanan yang tahu bahwa setiap detik bisa menjadi pertarungan hidup atau mati. Mata safirnya… masih sama seperti milik adiknya, tapi menyimpan cahaya yang lebih tajam. Cahaya milik seseorang yang telah kehilangan sesuatu—dan bersumpah untuk melindungi yang tersisa. Mungkin… ini yang dibentuk oleh dunia ninja. Sebuah dunia tempat ujian bukan datang dari nilai di kertas, tapi dari luka di tubuh dan keputusan di medan tempur.
Karin muda akhirnya mengangguk lemah, lalu menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.
"Foto itu diambil saat aku menemuinya di Inggris, negara lain di luar Jepang yang jaraknya sangat jauh. Ayah dan ibu bercerai waktu aku masih empat tahun, dan Naruto serta Naruko baru dua tahun." Suaranya mulai bergetar, tapi ia tetap melanjutkan. "Ayah mendapat hak asuh Naruko dan membawanya tinggal di Inggris. Aku dan Naruto tetap di Jepang bersama ibu. Sejak saat itu, kami hidup terpisah."
Ia menunduk sejenak, menatap tangannya yang mengepal di pangkuan. "Naruto masih terlalu kecil untuk mengingat siapa ayahnya… atau kalau dia punya saudara kembar perempuan. Dan ibu… dia sangat sakit hati. Sejak dulu, dia melarang kami menyebut nama ayah atau Naruko di rumah. Kami belajar untuk diam, untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja."
Ia menatap Naru dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Jadi… tolong jangan bicarakan ini di depan ibu, atau Naruto. Aku mohon."
Naru menelan ludah, merasa dadanya mengencang karena rasa bersalah yang tiba-tiba menyesak.
"Maaf," gumamnya pelan. "Aku… aku tidak tahu."
Karin muda menggeleng pelan. "Tidak apa-apa," balasnya dengan suara yang berusaha tetap ringan. "Melihat wajahmu yang mirip dengannya… entah kenapa, rasanya seperti Naruko benar-benar ada di sini. Itu cukup mengobati rasa rinduku."
Senyumnya muncul… tapi matanya tetap jujur. Air mata menggantung di pelupuk, tak jatuh, tapi terlihat jelas.
Karin dewasa yang sejak tadi diam memperhatikan, tersenyum lembut dan perlahan mendekat. Ia duduk di samping Karin muda dan tanpa banyak kata, merangkul bahunya dengan satu tangan, menepuk pelan-pelan sebagai tanda kehangatan dan empati. Gerakannya penuh pengertian, seolah ia sedang memeluk dirinya sendiri dari masa lalu.
Karin muda sedikit terkejut, tapi tidak menolak. Ia membalas dengan menyandarkan kepalanya pelan ke bahu sang 'kembaran', lalu tertawa kecil di sela isaknya.
"Lucu juga ya," ujarnya pelan. "Aku jadi merasa seperti dalam drama fiksi ilmiah."
"Setidaknya, aku cukup bangga untuk bilang kalau semua Karin cantik di semua dimensi," sahut Karin dewasa dengan senyum menggoda.
Keduanya tertawa pelan, tawa yang ringan meski dibalut rasa pahit. Sejak malam itu dimulai… suasana kini sedikit lebih hangat.
Tidak ada yang tahu, itu menjadi malam terakhir Karin melihat Naruto muda adiknya di dunia ini. Pagi harinya, kekacauan datang lebih cepat dari yang mereka perkirakan.
Yami, sang pemburu lintas dimensi, benar-benar muncul. Yami menyerang membabi buta, membuat tim Naruto dewasa segera membentuk mode bertahan. Pertarungan pun tidak bisa dihindarkan. Beruntung serangannya bisa dihalau oleh tim Naruto.
Dengan langkah mantap, Yami mendekat ke arah Naruto muda. Sorot matanya penuh dengan kebencian dan kepuasan. Bagi Yami, ini adalah momen pembuktian. Ia telah mengalahkan dua Naruto dari dua dimensi, dan kini menyadari bahwa Naruto dari dimensi ini memilih untuk memihak mereka yang berusaha melindungi multiverse. Yami menganggap ini bagian dari perlombaan untuk mendapatkan kekuatan terakhir—Naruto ke-7 di dimensi ke-7 sebagai kekuatan penentu.
Di tengah situasi tegang itu, Karin dewasa bersiap untuk bertindak sebagai transporter. Ia menggenggam erat tangan Naruto muda, memberi isyarat pada Naruto dewasa, Orochimaru dan Naru untuk mendekat. Mereka hanya punya satu kesempatan. Naruto dewasa mengangguk, membaca waktu yang tepat. Saat komando diberikan, segel dimensi dibentuk. Dalam waktu yang bersamaan, Yami pun melakukan hal yang sama, berusaha mengikuti mereka ke dimensi ke-7.
Tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Yami sempat melemparkan sebuah Dark Rasengan—energi kegelapan padat yang langsung mengarah ke Kushina dan Karin muda penghuni dunia ini.
Tanpa pikir panjang, Naruto dewasa membatalkan teleportasinya dan melompat ke hadapan serangan itu, menangkisnya lalu mengalihkannya ke arah laut, sejauh 500 kilometer dari daratan. Rasengan itu meledak di tengah laut, menciptakan suara yang menggelegar disusul gelombang pasang besar dan gempa yang mengguncang pulau. Dampaknya terasa ke seluruh penjuru, seolah dunia menahan napas.
Naruto dewasa segera kembali ke rumah, memastikan keselamatan Kushina dan Karin muda. Di hadapan mereka, Naruto dewasa kembali menegaskan bahwa mereka sudah melihat sebesar apa kekuatan Yami. Mereka kini tahu siapa musuh sebenarnya dan betapa pentingnya melindungi Naruto muda.
Kushina akhirnya tak kuasa membendung air mata. Ia mengakui semua yang selama ini disembunyikannya, bahkan dari anak-anaknya. Mereka adalah keturunan terakhir Klan Uzumaki, pewaris sisa-sisa spirit Kyuubi yang kini hanya tinggal sebagian kecil pada Naruto muda. Spirit itu diwariskan turun-temurun, melewati era pelarangan terhadap ninja di Jepang. Naruto muda memang tidak sekuat para pendahulunya, namun kekuatan penyembuhannya berasal dari warisan gen itu. Karena itulah Kushina selama ini bersikeras memperjuangkan hak asuh Naruto muda—ia hanya ingin bisa mengawasi kekuatan yang hidup dalam diri putranya.
Kini semuanya jelas. Kekuatan Kyuubi di dunia ini mungkin telah sirna, namun ancaman dari luar dimensi jauh lebih nyata dan lebih mengerikan. Kushina memohon agar Naruto muda dilindungi dengan sepenuh hati. Meskipun Naruto dewasa tak sanggup berjanji akan membawanya kembali dengan selamat, ia bersumpah akan melakukan segalanya yang ia bisa—walau harus melawan takdir itu sendiri.
Namun mereka tak punya banyak waktu. Dari kejauhan, ledakan Dark Rasengan masih tampak menyala di cakrawala. Langit yang sebelumnya kelam kini menyala terang oleh pancaran energi pekat berwarna ungu kehitaman yang mengembang seperti luka terbuka di atmosfer. Suara ledakan menyusul kemudian—bukan hanya dentuman, tapi gemuruh panjang yang menggetarkan jantung, seperti dunia tengah meraung kesakitan. Beberapa detik kemudian, suara lain datang menghantam: deru arus raksasa yang menabrak daratan. Tsunami yang dihasilkan oleh ledakan itu mulai mendekati jantung kota Tokyo. Naruto memerintahkan Kushina dan Karin untuk segera naik ke rooftop, satu-satunya tempat tinggi yang cukup dekat untuk menyelamatkan diri.
Naruto dewasa lalu membentuk segel perpindahan dimensi dan menyusul Naruto muda ke dimensi ke-7. Di tengah pemandangan apokaliptik itu, satu hal menjadi kenyataan yang tak bisa disangkal: dunia ini tak lagi aman. Perburuan kekuatan Naruto yang terakhir, kekuatan yang tersembunyi di dimensi ketujuh, telah dimulai. Dan taruhannya kini bukan hanya nyawa satu Naruto—melainkan keberlangsungan semua dimensi yang tersisa.
Keesokan harinya, Naru kembali. Wajahnya lusuh, matanya tak berani menatap langsung. Ia berdiri di ambang pintu rumah Uzumaki, lalu mengucapkan kalimat yang memecah dunia Karin dalam satu detik:
"Maaf... Naruto gugur dalam pertarungan."
Waktu seakan berhenti. Karin terpaku, otaknya menolak untuk memproses kalimat itu. Apa-apaan ini? Baru kemarin mereka masih bersama, dan sekarang—Naruto tewas? Begitu saja? Siapa dia sampai bisa semena-mena membawa adiknya dan kembali hanya untuk menyampaikan kabar kematian? Rasanya seperti ditampar oleh kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.
"GLEK!"
Namun sebelum Karin bisa melampiaskan amarahnya, ibunya sudah terlebih dahulu bergerak. Kushina menerjang, mencekik leher Naru dengan kedua tangan yang gemetar oleh emosi.
"Sudah kubilang anakku bukan ninja sepertimu!" teriaknya, air mata mengalir deras di pipi. "Sudah kubilang jangan libatkan dia! Mungkin benar kami keturunan ninja... tapi itu ratusan tahun lalu! Dunia ini bukan duniamu! Kembalikan Naruto-ku! Kembalikan! Kembalikaaan!"
Teriakan itu menggema di seluruh ruangan, bercampur antara amarah dan kesedihan yang tak terperi. Karin hanya bisa berdiri, membeku. Ia tahu betapa ibunya mencintai Naruto.
Naru tidak melawan. Ia tidak mencoba melepaskan cekikan di lehernya, tidak berusaha menyelamatkan diri. Suaranya serak dan bergetar saat akhirnya bicara. "M-maaf... aku sudah berusaha semampuku... tapi musuh terlalu kuat. Semua Naruto... mereka semua mengorbankan dirinya. Aku satu-satunya yang tersisa..."
Ia bicara dengan penuh penyesalan, seolah ingin menanggung semua dosa dunia. Tapi Kushina tak mendengar. Ia sudah terlanjur kalap, ia mendorong tubuh Naru keras ke dinding.
Melihat ibunya hampir melewati batas, Karin akhirnya bergerak. Dengan sekuat tenaga ia menahan Kushina, memeluk tubuhnya dari belakang dan berbisik memohon agar ibunya tenang.
"Tolong tinggalkan kami," ucapnya kepada Naru, tak ada emosi dalam suaranya selain kehampaan.
Naru menatap Karin sejenak. Ada begitu banyak hal yang ingin ia jelaskan. Tentang pertempuran, tentang pengorbanan Naruto, tentang ancaman yang belum berakhir. Tapi ia tahu itu bukan waktunya. Ketika ia mencoba bicara, Karin menatapnya tajam.
"Cukup," katanya pelan, tapi tegas. "Aku tak ingin melihatmu lagi. PERGI!"
Dan Naru pun pergi, meninggalkan kediaman Uzumaki dengan langkah berat, menyisakan udara dingin yang menggantung di ruang tamu.
Di dalam kamar, Kushina menangis tak henti-henti. Histeris. Tubuhnya gemetar hebat, berkali-kali menyebut nama Naruto seolah berharap anaknya akan muncul tiba-tiba dari balik pintu dan mengatakan ini semua lelucon.
Karin hanya bisa memeluknya erat. Berjam-jam mereka duduk di lantai kamar itu, hanya berdua, saling menggenggam tangan. Tangis ibunya baru mereda saat tubuhnya terlalu lelah untuk menangis lebih lama. Matanya bengkak, napasnya terengah, dan Karin hanya bisa membelai rambutnya perlahan.
Karin merasakan hal yang sama. Rasa kehilangan yang menggerogoti jiwa. Ini terlalu cepat. Terlalu tiba-tiba. Baru kemarin Naruto mengisi ruang ini dengan tawa dan kegaduhannya. Sekarang... ia hanya menjadi kabar duka yang datang bersama sosok dari dunia lain.
Karin menatap langit-langit. Matanya berkaca-kaca. Haruskah ia melapor kepada polisi? Apa yang harus ia katakan? Bahwa adiknya ikut bertempur di dimensi lain? Bahwa dunia ninja itu nyata, dan musuh yang mereka hadapi bukan dari dunia ini? Polisi bahkan tidak akan mengerti, apalagi bertindak.
Ini semua… seperti mimpi. Mimpi buruk yang terlalu nyata.
Kini, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah bertahan. Bersandar pada ibunya. Menguatkan diri bersama, dalam duka yang sama.
Angin malam menyapu lembut puncak Tokyo Tower, membawa serta aroma kota yang tak pernah tidur. Di ketinggian itulah sosok berjubah hitam berdiri tegap, siluetnya menyatu dengan kelam langit metropolis. Tudung jubahnya tertarik ke depan, menyembunyikan sebagian besar wajahnya, namun helai-helai rambut pirang yang mencuat di bawah tudungnya menjadi penanda siapa dirinya—Naru, sang Time Traveler.
Tanpa sepengetahuan Karin, Naru tidak benar-benar menghilang dari dimensi ke-6. Ia mengawasi dari kejauhan, memastikan dunia ini tetap berada di jalur yang semestinya. Meski tak lagi diterima, ia merasa bertanggung jawab... setidaknya sampai segalanya berakhir.
Enam versi dirinya, enam Naruto dari dimensi yang berbeda, telah tumbang. Mereka gugur demi satu tujuan: menjaga keseimbangan dunia dan mencegah kehancuran waktu. Energi mereka, kekuatan mereka, dan semangat mereka kini tinggal dalam tubuh satu-satunya yang tersisa—Naru.
Bayangan tentang Naruto muda dari dunia ini, kembali hadir dalam benaknya. Seorang siswa SMA yang hanya tahu cara bertarung di jalanan, tanpa jurus, tanpa chakra, hanya tekad dan pukulan keras. Tapi ia bertarung habis-habisan melawan Yami. Dengan luka dan napas tersengal, ia berkata: "Jangan biarkan tubuhku diambil olehnya." Lalu, ia menyerahkan segalanya kepada Naru—energi, tekad, bahkan mimpinya.
Dan tidak hanya Naruto muda. Naruto dewasa yang ia anggap kakak, sekaligus ketua tim pelindung dimensi, satu-satunya yang sejak awal merangkul dan mengajarinya jalan ninja, juga telah tiada. Lelaki itu tak hanya melatih tubuhnya, tapi menyembuhkan luka paling dalam—kesepian. Semua pengorbanan itu kini terpatri dalam dirinya. Naru bukan lagi sekadar penjelajah waktu. Ia adalah wadah dari enam kehendak, enam masa lalu, enam akhir yang menyatu demi satu masa depan.
Ia mengepalkan tangan di balik jubahnya. Cahaya biru samar mengalir di bawah kulitnya, efek dari energi chakra gabungan yang tak pernah bisa ditiru oleh siapa pun. Ia telah menjadi sesuatu yang lain. Sesosok penjaga waktu. Saksi sejarah. Penentu arah semesta.
"Demi enam jiwa yang telah pergi, demi masa depan yang harus dilindungi, aku bersumpah akan menjaga waktu hingga akhir segalanya."
Dan di puncak menara waktu, sang penjelajah berdiri seorang diri.
Menatap masa depan yang belum tertulis.
To Be Continue…
A/N:
Shinobi Online 2: The End of The World menggabungkan 3 alur fic: Shinobi Online, Oneesan dan The Time Traveler. Kalau jeli memperhatikan latar waktu, pasti ngerti. Detail fic:
1 Fic Oneesan:
Uzumaki Karin: Tokoh utama di fic ini. Anak tertua Kushina. Seorang Insinyur Elektronika (Electronics Engineer) bekerja dengan perangkat elektronik, sensor, dan alat digital.
Uzumaki "Souban" Naruto: Anak SMA Konoha. Meninggal setelah ikut bersama Naruto dewasa melawan Yami berperang lintas dimensi. Di akhir hayatnya ia menyerahkan kekuatannya pada Naru agar tidak diambil alih Yami.
Uzumaki Naruko: Anak SMA. Kembaran Naruto yang tinggal di Inggris.
Uzumaki Kushina: Ibu Karin, Naruko dan Naruto.
2 Fic Shinobi Online: Detil karakter akan dijelaskan di chapter depan.
3 Fic The Time Traveler:
Uzumaki "Naru" Naruko: Versi perempuan Naruto yang kini jadi The Time Traveler, penjelajah sekaligus pengendali ruang dan waktu. Mendapatkan kekuatan setelah 6 versi Naruto lain meninggal dunia dan energi mereka terkumpul di tubuhnya. Sehingga ia bertanggung jawab terhadap kelangsungan reinkarnasi Naruto, keberlangsungan dunia, dan kestabilan alur waktu di 7 dimensi.
Uzumaki Naruto dewasa: Versi Naruto dari dimensi ke-1 (dunia ninja). Meninggal setelah melawan Yami berperang lintas dimensi. Di akhir hayatnya ia menyerahkan kekuatannya pada Naru agar tidak diambil alih Yami.
Uzumaki Karin dewasa: Versi Karin dari dimensi ke-1 (dunia ninja).
Tidak perlu membaca ulang 3 fic itu karena fic ini punya konflik sendiri. Namun jika punya waktu luang silahkan dibaca kembali.
rifuki
