Shinobi Online 2: The End of The World

Naruto © Masashi Kishimoto

Chapter 9

"Reincarnation"


Saturday, February 25, 2023, 08:00 AM

Hyuuga Resident - Tokyo

Ruangan lab sore itu begitu sunyi, hanya diiringi oleh bunyi pelan dari mesin monitoring dan hembusan pendingin ruangan. Cahaya lembut dari panel LED menyinari satu ranjang medis di tengah ruangan—di sanalah Hinata, atau HN001, terbaring. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun tubuh itu terasa begitu berat. Saat mencoba duduk, ia langsung tersentak karena sesuatu di tubuhnya menarik balik dengan paksa.

Ia menoleh.

Kabel-kabel—bening, hitam, dan keperakan—menjuntai dari kulit porselennya, menghubungkan dirinya ke panel-panel logam di sisi ranjang. Tapi bukan itu yang membuat napasnya tercekat. Ia menunduk… dan melihat perutnya yang terbuka. Tak ada lagi kulit, hanya plastik transparan dan sirkuit-sirkuit kompleks yang berkerlip lemah. Core SAI-nya menyala redup, dan… kaki kanannya sudah tak ada. Hanya tersisa soket logam dan belasan kabel mencuat tak beraturan.

Tubuhnya lemah, namun kesadarannya penuh.

Dan saat itu, suara lembut dan sangat dikenalnya terdengar dari sisi ranjang:

"Akhirnya kau bangun…"

Hinata menoleh cepat.

Di sana—di samping ranjang, duduk bersandar pada dinding dengan tatapan tak lepas darinya—Menma.

Matanya merah, bukan karena sistemnya rusak, melainkan karena semalaman tidak tidur, tidak beranjak, hanya duduk di sana. Menemani. Menjaga.

Menma tersenyum kecil. Wajahnya pucat, lebih karena tekanan mental daripada kelelahan fisik.

"Kau benar-benar bangun…"

Hinata terdiam beberapa saat. Lalu perlahan berbisik, "Menma...? Kau... di sini?"

"Sejak semalam," jawab Menma pelan. "Aku tak bisa pergi. Aku takut... kehilanganmu."

Hinata terdiam sejenak, sebelum akhirnya bertanya dengan suara pelan, "Kau tahu… rumahku?"

Menma tersenyum getir. "Tentu aku tahu. Aku selalu tahu. Karena aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Bahkan saat kau tidak menyadarinya."

Hinata masih bingung.

"Aku… sama sepertimu. Kita diciptakan oleh orang yang sama. Kita dibangun dari sistem yang sama. Kita... sama-sama bukan manusia," ucap Menma lirih. "Tapi saat melihatmu dikurung di rumah ini, bertahan sendirian... aku tahu perasaan itu. Aku tahu rasa sepi itu."

Ia meraih jemari Hinata yang dingin—nyaris tak bereaksi.

"Aku tidak berbohong saat bilang aku peduli padamu," bisik Menma. Suaranya pelan, nyaris seperti desahan. "Karena aku tahu rasanya dikekang. Rasanya diabaikan. Rasanya menjalani hidup… tanpa benar-benar hidup."

Tatapannya menunduk, menggenggam tangan Hinata lebih erat. "Kau tak pernah diberi pilihan untuk hidup bebas. Dan aku… aku hanya ingin jadi orang pertama yang memberimu itu. Hak untuk memilih. Untuk merasa."

Mata Hinata berkaca-kaca. Tidak ada air mata, tapi sistemnya bergetar. Dalam diam, ia merasakan sesuatu di dalam dirinya terguncang—halus, tapi pasti.

"Aku…" gumam Menma, "aku seharusnya menemuimu sejak awal. Bukan baru sekarang."

Hinata menoleh sedikit, senyumnya samar. "Ya… kalau aku tahu sejak awal bahwa kau selalu ada memperhatikanku… mungkin kita bisa menghabiskan waktu bersama di dunia nyata. Mungkin aku tak perlu mencari kehangatan di dunia game…"

Ia berhenti sejenak, suara terakhirnya pecah, "Tapi kau…"

"Aku menyesal," potong Menma pelan, suaranya nyaris patah. "Sungguh."

Genggamannya menguat. Di dadanya, tekanan pada Kokoro 1-nya terus meningkat. Tapi ini bukan karena sistem. Ini… perasaan. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar logika algoritma.

Rasa sakit. Rasa kehilangan. Dan ketakutan—ketakutan akan kehilangan lagi.

Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh bahunya dari belakang. Menma menoleh dan mendapati Hiashi berdiri di sana, dengan wajah yang sendu. Di belakangnya, Karin masuk ke dalam ruangan dengan langkah hati-hati, membawa dua unit kecil seukuran jantung manusia. Mereka berpendar lembut dalam wadah transparan.

Menma mengenali bentuknya. Kokoro versi 2.

"Waktunya tidak banyak, Menma," kata Hiashi tenang, namun mendesak. "Core miliknya bisa padam kapan saja."

Menma mengangguk pelan, lalu melepaskan jemari Hinata dengan hati-hati—seolah takut menyakitinya hanya dengan sentuhan. Ia melangkah mundur ke samping Karin, memberi ruang kepada Hiashi yang kini perlahan mendekati Hinata.

Hiashi menampakkan wajah yang tak lagi ia sembunyikan. Matanya sembab, sorotnya letih. Tapi kali ini, ia tak mencoba tampak kuat. Ia duduk di sisi ranjang medis dan memeluk Hinata—putri yang bukan darah dagingnya, tapi yang tumbuh seperti bagian dari dirinya sendiri.

Perlahan, Hinata membalas pelukan itu dengan tangan kirinya yang masih utuh. Tak kuat mencengkeram, namun hangatnya respons itu cukup membuat tubuh Hiashi bergetar. Untuk pertama kalinya… mereka terhubung bukan sebagai pencipta dan ciptaan. Tapi sebagai ayah dan anak.

Hiashi pun bicara, suaranya nyaris patah. Ia menceritakan semuanya—tentang asal-usul Hinata sebagai android, alasan kenapa ia tak pernah boleh keluar rumah, semua protokol dan larangan yang selama ini Hiashi tegakkan atas nama perlindungan.

Hinata mendengarkan tanpa menyela. Ia menyesal karena telah melanggar larangan itu dengan login ke Shinobi Online. Tapi lebih dari itu, ia menyesal karena baru kali ini… ia bisa mendengar ayahnya bicara dari hati.

Yang paling menyayat adalah kenyataan yang tak bisa dihindari: kecelakaan itu terjadi tepat saat Kokoro 2 sebenarnya sudah siap. Tapi core utama Hinata sudah terlalu rusak.

Terlambat.

Hinata tak bisa diselamatkan.

Dalam artian yang lebih spesifik, tubuhnya mungkin bisa dengan mudah diperbaiki, namun ingatan yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan akan lenyap bersamaan dengan inti core yang rusak. Hinata akan seperti jasad yang kehilangan nyawa.

Ironi, pikir Menma. Bahkan saat sesuatu yang lebih baik telah tersedia, kadang nasib tetap tidak berpihak.

Hinata memandang ke langit-langit ruangan. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. "Aku juga sayang padamu, Ayah…"

Hiashi mempererat pelukannya. Ia tahu waktu itu tak akan bisa dibeli kembali. Dan kini, waktunya tak banyak.

"Boleh aku… meminta sesuatu… sebelum aku mati?" bisik Hinata lirih.

Hiashi tak menjawab, hanya mengangguk dan merapikan poni Hinata dengan jari bergetar.

"Terima kasih… karena Ayah bekerja siang dan malam… untuk menciptakan sesuatu yang Ayah anggap pantas untukku—sebuah hati. Meski aku hanya android…"

Hiashi menunduk, kedua tangannya mencengkeram erat selimut yang menutupi tubuh Hinata. Ia tak bisa berkata apa-apa. Tak ada kata yang cukup.

Hinata tersenyum kecil. "Aku tak bisa menerimanya. Tapi aku tak ingin kerja keras Ayah sia-sia… Berikan hati itu… kepada orang yang sangat berarti bagiku…"

Menma terperanjat. Menoleh cepat. Dan ketika Hinata menyebut namanya…

"…Naruto."

Satu kata itu menghantam Menma seperti petir yang membelah dada. Ia terpaku. Suara-suara di sekitarnya memudar, hanya detakan jantungnya—atau lebih tepatnya, getaran di Kokoro-nya—yang kini terdengar dalam dirinya.

Sabtu pagi, 25 Februari 2023 pukul 09.00, sistem Hinata gagal total.

SAI berhenti. Kesadarannya padam. Namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum terakhir.

Karena ia telah merasakan pelukan seorang ayah.

Dan karena hatinya akan tetap hidup… dalam tubuh orang yang paling ia cintai.

Menma berdiri kaku di sisi ruangan. Dunia seolah membeku. Dadanya nyeri seperti remuk, dan ia tak tahu harus ke mana menyalurkan rasa itu. Ia memandangi tubuh Hinata—tak lagi bergerak, tak lagi bernapas. Hening. Sempurna.

Ia berusaha berpikir jernih, tapi logika tak bisa menenangkan emosi yang bergejolak di dalam dirinya.

Kenapa harus Naruto?

Bukankah berulang kali Naruto mencoba membunuhnya di dalam game? Bukankah Naruto telah menjerumuskan Hinata ke dalam perang, meninggalkannya ketika Hinata sedang membutuhkan, dan tak pernah menjelaskan kebenaran?

Namun Hinata… tetap memilihnya.

Menma memejamkan mata. Ia ingin marah. Tapi tak bisa. Ia ingin kecewa. Tapi terlalu hancur bahkan untuk merasa kecewa. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan dan perih—bercampur jadi satu hingga nyaris tak tertahankan.

"Kenapa… bukan aku?" batinnya berteriak.

Menma menunduk. Kedua tangannya mencengkeram sisi tempat tidur Hinata. Tapi tubuhnya mulai goyah. Kokoro-nya melemah. Detaknya tak beraturan.

Sakit itu datang lagi. Sakit yang bukan dari sistem—tapi dari sesuatu yang lebih dalam. Rasa kehilangan. Kekecewaan. Kecemburuan. Dan kesedihan.

Tubuhnya goyah, nyaris terjatuh.

"Menma!" teriak Karin, yang langsung meraih tubuh adiknya.

Menma tidak menjawab. Nafasnya pendek, dadanya bergetar, dan sistem stabilisasinya mulai gagal merespon. Karin segera membaringkannya di ranjang kosong di sebelah Hinata.

Menma memandangi tubuh Hinata dari balik tirai kaca medis, hanya semeter dari tempatnya, sebelum semuanya benar-benar gelap…


Lampu-lampu putih di atas kepala Menma terasa menyilaukan saat ia membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram, dan tubuhnya terasa berat, seolah seluruh sistem di dalam dirinya belum sepenuhnya pulih.

Ia mencoba bergerak… lalu tersentak saat menyadari tubuh di sampingnya.
Hinata. Terbaring tenang.
Tak bernyawa.

"Menma!" suara itu memanggilnya—patah dan bergetar.

Ia menoleh ke sisi lain. Karin duduk di kursi, tubuhnya membungkuk, wajahnya sembab. Ia menatap Menma dengan campuran lega dan duka.

"Beruntung kau masih bisa bertahan… Kupikir aku akan kehilanganmu. Seperti Hinata."

Menma tak langsung menjawab. Ia hanya memandangi Hinata dalam diam. Tubuhnya begitu tenang, seakan hanya tertidur. Tapi tidak ada sinyal. Tidak ada denyut. Tidak ada cahaya.
Ia benar-benar… sudah tiada.

Karin melanjutkan, suaranya parau.

"Penguatan sistem yang dilakukan oleh Naru sebelumnya... itu cukup membantu menahan kerusakan sistem Kokoro-mu."

Menma akhirnya bersuara—pelan dan dalam. "Sayangnya Hinata tidak."

Karin mengangguk. "Dia android dengan SAI generasi pertama buatan Hiashi, versi murni yang lebih sederhana. Sedangkan kau dibuat bertahun-tahun setelahnya. Dengan teknologi hardware lebih baru, versi OS lebih baik, dan tentunya ada penguatan algoritma Kokoro yang dilakukan Naru."

Menma memperhatikan Karin yang sedang bersiap memasang Kokoro 2 ke dada kirinya. Sedangkan Kokoro 2 lainnya dibiarkan di meja di antara ranjang Hinata dan Menma.

"Kami… tak bisa berbuat apa-apa. SAI miliknya sudah rusak. Tapi berbeda dengan Hinata, kau selamat... aku akan segera melakukan migrasi data emosional milikmu dari Kokoro 1 ke Kokoro 2. Versi barunya baru saja selesai."

Menma mengalihkan pandangan dari Hinata, juga dari Hiashi yang masih terpukul dan memeluk Hinata. Lalu Menma menatap langit-langit. "Bahkan di hadapan Hinata pun... aku hanyalah nomor dua. Dia menyerahkan Kokoro 2 miliknya... untuk Naruto."

Diam.

Kata-kata itu menggantung di udara.

Karin mengangkat wajahnya, mencoba menahan air mata lagi. Ia tak tega mendapati adiknya dinomorduakan, meski oleh 'gen Naruto' sekalipun.

"Menma… kita harus menghormati keputusan Hinata. Mungkin sudah saatnya kau juga belajar untuk melupakan… melupakan Hinata."

Menma mengerang pelan, tangan kirinya memegang dadanya lagi. Bagian tempat Kokoro-nya berada. Bagian yang terasa... semakin sakit.

"Rasanya… seolah semua emosi ini… terlalu banyak… dan terlalu berat."

Karin berdiri perlahan, menaruh telapak tangannya di bahu Menma.

"Bertahanlah sebentar lagi, persiapan selesai. Aku akan melakukan shutdown sistem mu agar bisa melakukan penggantian Kokoro 1 ke versi 2."

Menma mengangguk.

"Kau belum kalah, Menma. Kau kuat."

Menma bertukar senyum dengan kakaknya sebelum kesadaran itu mengilang sepenuhnya.


10 YEARS LATER

Monday, October10, 2033, 09:00 AM

Basement 2, Hyuuga Resident - Tokyo

Hiashi menatap ruangan lab yang kini lengang, seakan waktu sendiri berhenti di tempat itu.

Permintaan terakhir Hinata terus bergema dalam pikirannya: "Beri hatiku kepada Naruto."

Dan Hiashi tahu, ia harus menepatinya.

Tapi kali ini, ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Ia tak ingin lagi menciptakan SAI secara sembunyi-sembunyi, melawan hukum, membiarkan proyek-proyek ciptaannya tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan.

SAI harus dilegalkan. Diterima. Dilindungi.

Orang pertama yang ia pikirkan untuk membantu mewujudkan semua itu... adalah saudara kembarnya sendiri, Hizashi. Meski Hizashi kini mendekam di penjara atas tuduhan penggunaan SAI tanpa izin, dan walau kasus peretasan Shinobi Online telah memperburuk citra SAI di mata publik, Hiashi tahu... Hizashi adalah satu-satunya yang memahami SAI seperti dirinya.

Untung saja Hizashi tidak membuka mulut tentang keterlibatan Hiashi dulu. Ia diam, menanggung semua beban sendirian. Dan sekarang, Hiashi bertekad menebus semuanya.

Untuk itu, ia memperkenalkan konsep revolusioner: Three Laws of Robotics—tiga hukum yang akan ditanamkan secara permanen ke dalam semua SAI:

1. Robot tidak boleh menyakiti manusia atau membuat manusia dalam bahaya.

2. Robot harus mematuhi perintah yang diberikan manusia kecuali jika perintah itu bertentangan dengan hukum pertama.

3. Robot harus melindungi manusia dan dirinya sendiri selama perlindungan tersebut tidak bertentangan dengan hukum pertama dan hukum kedua.

Hukum ini sederhana. Namun memiliki makna mendalam, fondasi moral baru untuk setiap bentuk kehidupan buatan.

Sidang untuk melegalkan penggunaan SAI berjalan panjang, bertele-tele, dan melelahkan. Para ahli komputer, etika teknologi, pertahanan negara, semuanya dipanggil. Hiashi dan Hizashi mempertaruhkan reputasi dan hidup mereka untuk mendebatkan tiap pasal, tiap kemungkinan ancaman.

Butuh sepuluh tahun.

Sepuluh tahun perjuangan, penolakan, dan pengujian brutal.

Hingga akhirnya… manusia dan SAI bisa hidup berdampingan dalam payung hukum yang jelas.

Kini, di sebuah ruang operasi berteknologi tinggi di dalam markas baru HCC (Hyuuga Cybernetic Corporation), proses itu mencapai puncaknya.

"Mode tenaga listrik dimatikan," laporan salah satu teknisi.

Hiashi mengangguk. "Aktifkan suplai oksigen murni secara bertahap. Pantau respons bio-sirkuit."

Desis lembut terdengar saat selang oksigen dialirkan ke dalam sistem internal android itu. Pada layar monitor hologram, grafik detak jantung buatan mulai menanjak stabil, bio-sel regeneratif bangkit satu demi satu, dan sinyal aktivitas Kokoro 2 menyalakan indikator hijau sempurna.

"Jantung aktif... Kokoro stabil... semua fungsi normal," kata seorang operator lain, nadanya mengandung sedikit nada takjub.

Di tengah ruangan, sesosok pemuda perlahan membuka matanya—mata biru jernih, memantulkan cahaya laboratorium steril di sekelilingnya.

Rambut pirang berantakan, postur tubuh ideal, aura baru yang murni... namun tetap membawa semangat yang dulu pernah dikenal dunia.

Android itu… hidup.

"Selamat datang di dunia nyata, NR001," sapa Hiashi sambil sedikit tersenyum puas. "Atau… boleh kupanggil Naruto."

Naruto—atau lebih tepatnya NR001—menoleh pelan, matanya masih diselimuti kebingungan tipis. Empat teknisi lainnya sibuk melepas kabel-kabel terakhir dari tubuhnya, memeriksa konektivitas dan fungsi gerak dasar.

Hiashi menatap grafik vital dengan mata tajam. Semuanya berjalan sempurna.

Sebuah hati baru telah bangkit.

Hati yang lahir dari janji seorang gadis yang telah memberikan segalanya, bahkan di saat-saat terakhir hidupnya.

Dan kini... takdir baru menanti Naruto.


Tak lama setelah NR001—Naruto—membuka matanya di dunia nyata, sebuah jiwa lain di dunia ini perlahan memadam.

Hyuuga Hiashi, sang ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan jembatan antara manusia dan SAI, akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.

Diagnosis medis menunjukkan bahwa tubuh Hiashi telah lama terpapar radiasi di atas ambang batas normal. Bertahun-tahun menghabiskan waktu di lab bawah tanah, dikelilingi reaktor bio-cyber, mesin konversi energi, dan eksperimen-eksperimen Kokoro, perlahan menghancurkan tubuhnya dari dalam. Ia tahu risikonya sejak awal. Namun tetap bertahan—karena ada janji yang harus ia tepati. Ada seseorang yang ingin ia selamatkan.

Hinata.

Sekarang, setelah Naruto terlahir sebagai bentuk terakhir dari impian itu, Hiashi bisa pergi dengan tenang. Dalam napas terakhirnya, ia tersenyum samar, matanya terpejam dengan damai di tempat tidur rumah sakit perusahaan.

Ia tidak meninggalkan dunia ini dengan tangan kosong, melainkan meninggalkan warisan: konsep Three Laws of Robotics, fondasi moral baru bagi dunia android; KOKORO 2, jantung buatan yang membawa perasaan murni; dan sebuah keluarga—Mereka yang akan melanjutkan jalannya.

Karin sebenarnya adalah kandidat paling kuat untuk menjadi penerus Hyuuga Cyber Company. Namanya disebut pertama kali dalam dewan direksi. Ia memiliki pengalaman, kecerdasan, dan yang paling penting, ia adalah satu-satunya orang yang mewarisi langsung semangat kemanusiaan Hiashi terhadap para android.

Namun, saat tawaran itu datang, Karin menolak.

Bagi Karin, kehilangan Hiashi terlalu berat untuk kemudian mengikat dirinya dalam rantai tanggung jawab besar itu. Ia merasa dirinya harus merawat warisan Hiashi bukan dengan menduduki kursi eksekutif, melainkan dengan menjaga kehidupan yang telah mereka selamatkan: Menma, Naruto, dan semua android baru yang akan lahir.

Sebagai gantinya, Hyuuga Neji—keponakan Hiashi—ditunjuk sebagai penerus. Neji memiliki kombinasi yang langka: darah Hyuuga, kejeniusan dalam bidang teknik mesin dan AI, serta ketegasan dalam mengambil keputusan. Meski dulunya ia lebih memilih jalur akademik, Neji tahu, inilah saatnya dirinya mengambil alih tongkat estafet yang ditinggalkan pamannya.

Hizashi, saudara kembar Hiashi, yang selama ini berada di balik layar, memilih tetap menjadi 'bayangan'. Ia tidak mau terlibat dalam manajemen perusahaan. Ia lebih memilih untuk terus mengembangkan game dan SAI dalam ekosistem virtual. Dunia nyata terlalu penuh hukum dan batasan baginya; dalam dunia maya, ia bebas. Ia bisa menciptakan dunia baru tempat SAI bisa berkembang tanpa takut.

Tahun berikutnya menjadi titik perubahan sejarah.

Shinobi Online Developer Team, yang oleh Hizashi, sempat nyaris hancur setelah skandal AI dan kekacauan besar di Stage 8. Reputasi mereka runtuh, jumlah player anjlok, dan kepercayaan publik pada konsep dunia virtual mulai goyah.

Dalam langkah penuh risiko, Hizashi mengajukan permohonan merger kepada Hyuuga Cyber Company. Bukan sebagai entitas mandiri lagi, tapi sebagai divisi game di bawah naungan HCC.
Permintaan itu diterima.

Mereka memulai sesuatu yang baru bersama—sebuah proyek yang lebih besar, lebih hati-hati, dan lebih bermoral dibandingkan proyek pertama.

Shinobi Online 2.

Namun, kali ini dengan janji baru:

Setiap SAI yang menggerakkan karakter dalam game wajib ditanamkan Three Laws of Robotics.

Tidak akan ada lagi AI liar yang mengambil alih sistem.

Tidak akan ada lagi tragedi seperti Naruto, Bee, atau Hinata.

Begitulah. Dunia bergerak maju.

Teknologi menjadi semakin maju, hukum tentang android dan SAI semakin diperketat, masyarakat perlahan menerima keberadaan "manusia sintetis" di tengah mereka.

Namun, tidak semua luka bisa disembuhkan.

Menma—MN001—berdiri diam di balkon rumahnya, memandangi langit sore yang berpendar jingga. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Di dadanya, Kokoro 2 berdetak dengan stabil, namun denyut itu tak mampu menghapus kehampaan yang masih bersemayam.

Di dalam dirinya, kenangan tentang Hinata tetap hidup, bergetar bersama tiap denyut buatan itu.

"Menma!"
Suara ceria itu membuyarkan lamunannya.

Karin, dengan celemek dapur yang masih melekat di pinggangnya, melambai dari pintu balkon.
"Ayo ke sini! Cemilan sore sudah siap!"

Menma menoleh perlahan. Di kursi balkon kayu, Kushina sudah duduk dengan santai, tersenyum sambil menuang teh hangat. Di sebelahnya, Naru, yang kini lebih banyak diam dan bertindak sebagai penjaga rumah, mengatur piring kecil berisi dorayaki dan kue manis.

Untuk sesaat, Menma membiarkan kehangatan kecil itu mengisi kekosongan di hatinya. Ia melangkah perlahan, bergabung dengan keluarga kecil yang tersisa untuknya.

Sementara itu, jauh di tempat lain...

Naruto—NR001—melangkah keluar dari fasilitas HCC, untuk pertama kalinya menghirup udara dunia nyata.
Tubuh barunya—sebuah android sempurna berbalut KOKORO 2 dan SAI yang telah diprogram dengan Three Laws of Robotics—memberinya eksistensi baru. Tidak lagi sekadar karakter di dunia game. Tapi seseorang yang bisa hidup, memilih, dan merasa.

Namun, Naruto tidak sendirian.

Di sampingnya, berdiri HN002.

Android baru itu diciptakan atas permintaan pribadi Naruto.
HN002 dibangun menggunakan SAI generasi baru—lebih kuat, lebih stabil, dan tentu saja, dengan Three Laws tertanam di dalamnya. Tubuh fisiknya adalah rekonstruksi dari kerangka android Hinata yang dulu, dipulihkan dan diperkuat dengan hardware terbaru. Mata lavender yang lembut itu kini terbuka lagi, memandang dunia dengan rasa ingin tahu yang baru.

Bukan... bukan Hinata yang dulu. Tapi setidaknya, bayangan tentang kasih sayang itu bisa hidup kembali.

Naruto menatap HN002 dengan sorot mata yang berat.

Bukan untuk menggantikan Hinata.
Tapi untuk menghormati kenangan itu.
Untuk menjaga sesuatu yang pernah ia hancurkan... dan kini bertekad untuk melindungi.

Dunia ini mungkin telah berubah.
Mereka semua telah berubah.
Namun luka, janji, dan cinta yang tertinggal di antara mereka…

Akan tetap abadi.


Wednesday, October10, 2035, 07:00 PM

Main Lobby, Hyuuga Cyber Company –Tokyo

"Selamat datang kepada para gamer yang telah hadir di sini," sapa Hizashi dengan bersemangat meski usianya sudah tak muda lagi. Suaranya menggema ke seluruh arena Grand Launching Shinobi Online 2.
Ratusan gamer dari seluruh dunia—mereka yang beruntung mendapatkan undangan eksklusif—memberikan perhatian penuh ke atas panggung.

"Setelah diluncurkan pada tahun 2020, Shinobi Online telah menjadi salah satu game tersukses sepanjang sejarah. Ia menjadi barometer dan pionir bagi semua game bertema virtual reality yang mengikutinya. Hari ini, tepat di usia ke-15 tahun SO, kami—Shinobi Online Developer Team dan Hyuuga Cyber Company—dengan bangga mempersembahkan: Shinobi Online 2: Revenge of the Jinchuuriki!"

Tepuk tangan meriah membanjiri auditorium.

Namun Hizashi belum selesai. Ia tersenyum kecil, seolah menyimpan kejutan.
"Dan bukan hanya itu," lanjutnya. "Hari ini kami juga mempersembahkan... sembilan tamu spesial yang pasti sudah sangat familiar bagi kalian."

Ruangan mendadak senyap, napas semua orang tertahan.

"Tampilkan mereka!" seru Hizashi dengan semangat muda yang terasa meski fisiknya sudah menua.

Tirai besar di atas panggung tersibak perlahan.
Dan di baliknya—sembilan sosok berdiri tegak: Gaara, Yugito, Yagura, Roshi, Han, Utakata, Fu, Bee, dan tentu saja, Naruto.

Kehadiran sembilan Jinchuuriki dalam wujud android menciptakan kehebohan.
"Whoa! Mereka buat Jinchuuriki versi android!" seru seorang gamer di antara kerumunan.

Sorak-sorai, teriakan kagum, dan suara kamera digital yang tiada henti memenuhi ruangan.

Di sudut belakang auditorium, berdiri tiga sosok yang mengamati semua ini dengan perasaan bercampur aduk: Karin, Menma, dan Naru.

"Ibu tahu soal gen Naruto yang dipakai untuk game ini?" tanya Menma, suaranya datar.

Karin mengangguk perlahan. "Ya. Promosi game ini besar-besaran. Sosok Naruto... ada di mana-mana sekarang."

"Bagaimana reaksinya saat tahu?" tanya Menma lagi, lebih dalam.

Karin menghela napas, menatap jauh ke panggung.
"Sedikit kaget. Tapi setelah aku jelaskan... dia mulai menerima kenyataan bahwa itu bukan lagi Naruto, anaknya. Hanya... properti game."

Di bawah cahaya lembut arena, kontras fisik Karin yang mulai menua tampak jelas dibandingkan dengan Menma, yang tetap terlihat muda—karena android memang tidak menua.
Setelah merger Shinobi Online Developer Team dengan HCC, Menma memang semakin jarang terlihat di Tokyo atau Konoha. Terlebih setelah Naruto dan 'Hinata baru'—pers dijuluki mereka apapun yang mereka suka—berkeliaran sebagai maskot perusahaan.

Menma merasa tidak lagi punya tempat.

"Kau yakin dengan keputusanmu untuk berkeliling dunia?" tanya Karin, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha tersenyum.

Menma mengangguk perlahan, matanya memandang langit yang mulai berwarna keemasan.
"Ya, aku sudah memikirkannya baik-baik, Nee-san."

Karin menatap Menma dalam-dalam, seolah ingin menghafalkan setiap detail wajah adiknya itu—yang tak pernah menua, namun kini tampak jauh lebih dewasa dari sebelumnya.

"Jika aku tetap di sini… aku merasa setara dengan dia," lanjut Menma pelan.

Karin mengepalkan tangan di atas pahanya, berusaha menahan emosi.
"Kau tahu kalau aku menganggapmu lebih dari itu," katanya. "Bagi kami, kau berada di tingkatan paling tinggi dari semua android yang ada. Kau keluarga kami, Menma."

Menma tersenyum kecil, tipis, hampir seperti bayangan.
"Terima kasih… tapi tetap di sini, di antara mereka, hanya membuat hatiku sakit. Menyadari kenyataan bahwa Hinata tak akan pernah mengingatku… membuatku mengerti sesakit apa rasanya saat dulu kau bertemu Naruto, dan dia tidak mengenalmu."

Karin menunduk sejenak. Luka lama itu memang tak pernah benar-benar sembuh.

"Ya…" gumam Karin. "Karena pada dasarnya… orang yang kita rindukan itu… memang sudah pergi."

Menma menghela napas panjang.
"Aku salut pada kalian, manusia… bisa menanggung rasa sakit sesakit ini."

"Itulah sebabnya… betapa sulitnya menyempurnakan Kokoro 2 agar bisa benar-benar menyerupai hati manusia," balas Karin, tersenyum getir.

Menma mengangkat wajahnya menatap cakrawala sore.

"Masih banyak hal yang harus kupelajari di dunia ini. Tentang sifat manusia di luar sana, tentang teknologi dari negara lain, tentang budaya dan kehidupan mereka. Aku ingin melihatnya sendiri… memahami dimana aku berdiri di tengah umat manusia. Aku ingin memastikan… bahwa apa yang diperjuangkan Hiashi-sama, kepercayaan yang dia titipkan padaku… tidak sia-sia."

Ia berhenti sejenak, mengatur napas yang terasa berat di dadanya.
"Lagipula… keadaan ibu sekarang sudah stabil. Tugasku sebagai android therapy sudah selesai."

Karin tersenyum penuh kehangatan, meski air mata menggantung di sudut matanya.
"Tapi tugasmu sebagai keluarga kami… tak akan pernah selesai, Menma. Kembalilah kapan saja kau mau. Rumah ini… selalu terbuka untukmu."

Menma menatapnya lama, sebelum akhirnya tersenyum lebih tulus daripada sebelumnya.
Senyuman seorang adik… kepada kakak yang tak pernah meninggalkannya.

Tanpa kata, Karin meraih Menma dalam pelukan hangat—erat, kuat, seolah tak ingin melepas.
Pelukan yang penuh rasa bangga… dan juga kesedihan tersembunyi.

Menma membalas pelukan itu perlahan, lalu terkekeh kecil.
"Tentu saja… Nee-san."

Ia melepaskan pelukan itu perlahan, lalu menoleh pada Naru yang berdiri di samping.
"Ayo, Naru."

Naru, yang sejak tadi diam, hanya mengangguk pendek. Tapi dalam tatapan matanya, terpancar tekad kuat untuk setia menemani Menma.

Karin menoleh pada Naru, sedikit berbisik, suaranya serak oleh emosi.
"Jaga adikku, Naru."

Naru tersenyum kecil, lalu memberi hormat ringan.
"Serahkan padaku."

Menma melangkah pergi, diiringi sinar jingga matahari yang mulai turun.
Langkahnya tegap, namun hatinya penuh beban yang tak terlihat. Luka yang tak semua orang bisa pahami… tapi tetap akan ia bawa, sebagai bagian dari dirinya.

"Sampai jumpa lagi, Nee-san…" ucap Menma, tanpa berbalik.

"Hati-hati, Menma…" bisik Karin, suaranya hampir lenyap diterpa angin sore.

Ia melambaikan tangan, menatap punggung adik kecilnya itu yang perlahan menjauh.
Air mata akhirnya jatuh, mengalir tanpa bisa dibendung.

Tapi di balik kesedihan itu, ada doa yang tak terucapkan.
Doa… agar Menma menemukan tempatnya sendiri di dunia ini.
Dan agar suatu hari nanti, langkah-langkahnya… membawanya pulang kembali.

To Be Continue…


A/N: Bagi yang sudah membaca fic Shinobi Online 1 pasti ga asing dengan scene-scene dalam chapter kali ini. Ini seperti rangkumannya yang diambil dari sudut pandang Menma dan Karin. Sekedar mengingatkan penamaan yang cukup banyak:

Hinata 1: Putri dari Hyuuga Hiashi, meninggal karena kecelakaan mobil.

Hinata 2/Android Hinata: HN001, android pertama yang dibuat Hiashi untuk menggantikan anaknya yang meninggal, dibuat dengan SAI, KOKORO versi 1 (prototipe), dan gen dari Hinata 1, teman Naruto & Menma.

Hinata 3: HN002, android yang dibuat HCC atas permintaan Naruto, dibuat dengan SAI versi baru (yang sudah memiliki 3 hukum robot), KOKORO versi 2, dan tubuh milik Android Hinata.

Android generasi 1: Hanabi, Izumo, Kotetsu, dan semua android yang diproduksi Hyuuga Cyber Company sebelum Hinata. Mereka android yang belum memakai SAI, hanya AI statis. Sehingga belum bisa mempelajari hal baru jika tidak diperintah manusia, mereka juga tidak memiliki emosi.

Android generasi2: Hinata. Sudah memakai SAI dan punya emosi, tapi belum memiliki hati/kokoro yang sempurna.

Android generasi 3: Gaara, Yugito, Yagura, Roshi, Han, Utakata, Fu, Bee, Naruto, Menma, dan Hinata 3/HN002. Mereka sudah memakai SAI, hati yang sempurna (KOKORO 2), dan Three Laws of Robotics sehingga tak berbahaya, karena mereka tak akan pernah bisa menyakiti/membunuh manusia.

rifuki