Mitsunari menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kedua matanya terpejam, otaknya yang cerdas dipaksa untuk memikirkan sesuatu, sesuatu itu dia pikirkan terus agar biar keluar dari tatapan-tatapan curiga tiap kali ia bersama dengan pangeran es—orang yang selalu dia ikuti sejak dua dunia bergabung menjadi satu karena kekuatan Orochi.
"Mitsunari-dono!"
Seketika apa yang sedang Mitsunari pikirkan buyar saat mendengar suara Yukimura memanggilnya. Mitsunari seperti biasa memasang ekspresi judes alias ekspresi default-nya yang kaya orang marah, Mitsunari tambah bete lagi saat melihat dua dewa—berambut blonde dan putih-di kiri-kan Yukimura dengan wajah inosen.
"Ada apa Yukimura?"
"Mitsunari-dono butuh bantuan?"
"Ti ... dak ..."
"Gitu ya, aku pikir Mitsunari-dono lagi mikirin sesuatu, keliatannya serius banget."
"Iya aku lagi mikirin cara orang-orang ga ngerti sama apa yang aku omongin, apalagi kalo lagi ngobrol sama pangeran es menyebalkan itu." Mitsunari diam, baru sadar kalau dia baru saja mengatakan hal yang seharusnya tidak perlu.
"Ngobrol sama Cao Pi-dono ...?" Sebuah tanda tanya muncul di atas kepala Yukimura.
"Kamu bisa ngobrol menggunakan bahasa mandarin," usul Loki.
"Itu cara yang bagus," Perseus menyetujui ide Loki.
"Mitsunari-dono bisa ngobrol pake bahasa mandarin." Yukimura ngangguk-nganguk dengan mata berbinar.
Mitsunari menghembuskan nafas pasrah, ide mereka tidak menyelesaikan masalahnya, Mitsunari memutuskan untuk menggunakan ide mereka bertiga kalau otak cerdasnya tidak bisa memikirkan cara lain. Sebenarnya Mitsunari bisa saja menulis surat, tapi untuknya itu memalukan belum lagi kalau ada yang membacanya diam-diam-dikira surat mengenai strategi untuk pertarungan selanjutnya.
Sekali lagi Mitsunari menghembuskan nafas, entah sudah berapa bulan dia lewati bersama dengan pangeran itu, dia juga tidak mengerti bisa betah kerja di bawah naungannya. Berkat dirinya yang kerja dengan pasukan Wei sejak awal, dia bisa membaca hanzi dan sedikit berbicara dalam bahasa mandarin—Cao Pi mengajarinya, tidak lupa dengan Zhenji yang suka menyindirnya menggunakan bahasa mandarin.
"Tuan Hideyoshi ... berikan aku pencerahan ...," gumamnya pelan.
Mitsunari membalikkan badan dan berteriak kaget saat melihat sang pangeran Wei berada di belakangnya. Mitsunari segera berdeham, wajahnya memerah.
"Maaf aku mengejutkanmu."
"Akunya aja yang kurang fokus sampai bisa terkejut dengan kehadiranmu."
"Lalu apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak mikirin apa-apa."
"Aku tau," katanya tanpa basa-basi, seolah bisa membaca pikiran Mitsunari, "kamu pasti mikirin gimana caranya ngomong terima kasih padaku soal baju yang aku berikan padamu."
Mitsunari tercengang, tidak percaya Cao Pi mengatakan itu. Mitsunari memalingkan wajahnya.
"Mitsunari, kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa ..."
"Katakan."
Mitsunari membuka mulutnya, lalu mulutnya bergerak, bicaranya terbata-bata kalimat yang yang ingin dia ucapin.
"Xièxiè ... nǐ..."
"Itu aja?"
Mitsunari mengangguk.
"Beneran?"
Mitsunari berbicara lagi dalam bahasa mandarin, berterima kasih atas pakaian pemberian Cao Pi, dan bilang kalau nanti dia akan coba memakainya.
Cao Pi berusaha untuk mencerna tiap perkataan Mitsunari yang diucapkan dengan volume kecil.
"Aku pikir kamu cocok pake warna merah, aku senang kalo kamu suka dengan baju itu."
"Ehem,waga kimi apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Tanya Mitsunari."
"HE?! AKU GAK NGOMONG APA-APA!" sanggahnya, wajahnya merah padam persis kepiting rebus.
Ternyata saat Mitsunari sedang berbicara bahasa mandarin, Zhenji datang dan Zhenji mendengar semuanya, tentu Zhenji mengerti dan telinga tajam Zhenji mendapati kata-kata yang cukup menarik perhatiannya apalagi Mitsunari ngomongnya seperti perempuan yang sedang confess ke laki-laki yang disukainya.
"Tidak usah mengelak, kamu mau bilang 'wǒ ài nǐ' kewaga kimijuga aku tidak terganggu, kalo kamu mau jadi istri keduanya juga aku tidak peduli," kata Zhenji dengan wajah datar, Zhenji sudah muak dengan naskah dirinya yang selalu menjadi nomor kesekian karena suaminya selalu disuruh berpasangan dengan Mitsunari atau Zhao Yun-sekarang nambah Nobuyuki.
"AKU TIDAK MUNGKIN MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU KE PANGERAN NYEBELIN INI!" serunya kesal. "AKU GAK SUDI JADI ISTRINYA."
"Mitsunari, aku akan menerimamu dengan tangan terbuka sebagai istri kedua." Cao Pi berbicara seperti ini dengan wajah datar cenderung serius, soalnya dia ngerti kalau Mitsunari itu agak tsundere.
"Tidak akan dan tidak pernah GUA MAU JADI ISTRI ELU."
Saking kesalnya bahasa Mitsunari jadi berubah. Sungguh dia ingin memukul pangeran itu menggunakan kipasnya, tetapi dia tahan, Mitsunari tidak mau menanggung Cao Pi yang makin aneh tingkahnya karena pukulannya.
Mitsunari memutuskan untuk balik badan dan mengadu pada tuannya soal ini.
Esok harinya tiba-tiba rumor "Mitsunari ingin jadi istri kedua Cao Pi" menyebar, salahkan Kunoichi yang diam-diam menguping dan menyebarkannya ke seluruh penjuru, sampai Da Ji pun mengompori Mitsunari dengan bawa-bawa pengalaman pertama Cao pi dan Mitsunari—ketika mereka pertama kali disuruh untuk kerja sama maksudnya.
Yoshitugu yang mendengar rumor itu jadi khawatir, babunya yang memiliki rambut seindah model iklan sampo ini tidak terima kalau Mitsunari menjadi istri dari pangeran itu.
"Mitsunari, apa benar kamu mau jadi istri kedua orang itu?"
"Dengar ya Yoshitsugu, aku tidak sudi jadi istrinya, mending kamu aja yang jadi suami aku."
Yoshitsugu kaget.
Mitsunari telat nyadar dengan apa yang sudah dikatakannya.
"Waow, jujur sekali Tuanku ini."
Yang terakhir itu keluar dari mulut Sakon, babunya yang satu ini takjub.
.
.
.
Note:
Baju yang dimaksud tuh baju Mitsun yang bonus dari beli PO WO4
